Sabtu, 29 September 2012

cara berbuat baik

Berbuat Baik Tanpa Sambal Agama

Di setiap tulisan di blog ini saya  berulang kali menulis tentang pentingnya berfikir positif, pentingnya ber-prilaku atau berbuat baik.  Himbauan yang tentu saja sangat KONYOL bukan?

:mrgreen:   Lha, apa itu berbuat baik?  Baik bagi seseorang khan belum tentu baik bagi orang lain?

Tepat sekali! Itulah sebabnya tulisan ini saya sebut konyol, bahkan blog inipun secara keseluruhan adalah blog konyol. Saya percaya bahwa untuk kebanyakan kasus, “berbuat baik” adalah mudah dan nyaris tidak perlu ditulis. Justru kalau ditulis malah jadi aneh. Apakah mencuri, memperkosa atau berbuat onar adalah perbuatan baik atau buruk? Kalau anda sudah cukup umur dan mengaku hidup di jaman modern, pegang HP dan bisa akses komputer, saya yakin pasti tahu jawabannya bukan?

Namun  aktivitas berbuat baik yang seharusnya mudah, sering menjadi tidak mudah. Minuman keras misalnya, apakah tergolong baik atau buruk? Jawabannya akan sangat beragam, tergantung umur, negara dan budaya. Demikian juga dengan urusan kesopanan berpakaian, makanan dll.

:mrgreen:  Repot amat sih Mbah. Gunakan saja agama sebagai acuan, beres khan? Agama khan  jelas jelas berasal dari Tuhan jadi pasti SEMPURNA !

Di awal Sampean sendiri khan mengatakan: “Baik bagi seseorang belum tentu baik bagi orang lain”.  Nah, dengan menggunakan argumen yang sama maka jawabannya menjadi: “Sempurna bagi  seseorang,  namun bisa jadi SENTOLOYO bagi orang lain”.

Atas dasar itulah maka blog ini menghindari menggunakan agama sebagai acuan. Coba  Sampean jawab dengan jujur, kalau seandainya blog ini penuh dengan  potongan ayat kitab  suci  berseliweran, apa Sampean tidak  mual membacanya? Si Mbah yang nulis saja mual, apalagi yang baca. Kalau pakai  agama sebagai acuan, pakai agama apa? Agama siMbah yang primitif dan abal-abal? Nanti Sampean tambah mual dong?

Di dunia anak anak, agama adalah indah dan damai namun di dunia orang dewasa, agama  menjadi rumit.  Harus selalu diingat bahwa agama selain mengajarkan baik buruk dalam arti umum seperti tidak mencuri dan tidak membunuh, juga mengajarkan baik buruk dalam arti dogma dan akidah, surga dan neraka. Nah, inilah yang membuat acuan agama menjadi bias.

:mrgreen: Nonsense dan omong kosong Mbah. Tanpa acuan agama, hidup menjadi ngawur dan tanpa arah!

:) Jawab : Ngawur bagi seseorang, bisa jadi damai  bagi orang lain.

Jadi apa kalau bukan agama, apa dong acuan yang digunakan? Nah, agar tidak semakin  membingungkan, saya langsung tuliskan beragam acuan alternatif selain agama yang bisa dipakai sebagai acuan.

Binatang dan Alam

Belajar dari alam adalah pelajaran berbuat baik paling mudah dan sudah ada sejak jaman batu dan masih tetap relevan dengan kehidupan sekarang. Belajar dari semut, belajar dari lebah, kmbing, anjing , banjir, gunung meletsu, tsunami dll. Semuanya itu adalah sumber pelajaran paling berharga tentang kebaikan.

Cerita dongeng, kartun, tokoh wayang dll

Contohnya cerita wayang, cerita rakyat seperti Malin Kundang, Bawang merah bawang putih, kancil mencuri mentimun dll. Untuk masyarakat modern, ajaran tentang prilaku sangat mudah diajarkan lewat tokoh komik seperti batman, superman ataupun ataupun doraemon ataupun kisah nyatas seperti riwayat hidup dan perjuangan menuju sukses tokoh tertentu. Kalau mau pakai cerita nabi juga bisa. Itu juga termasuk cerita dongeng jaman kuda gigit besi.

Tradisi dan Budaya

Contohnya adalah melestarikan batik, menyanyikan kidung, sinom dan tembang, memepelajari gambelan tradisional, mengenal ragam hias atau berkunjung ke obyek wisata. Mereka yang rajin mempelajari budaya akan cendrung memiliki jiwa lebih halus dan tidak memiliki ruang untuk melakukan tindakan konyol.  Coba Sampean pikir, mana ada orang tawuran sambil menyanyikan kidung atau membaca pupuh?

Mengenal budaya sendiri ataupun mengenal budaya asing adalah sama mulianya. Budaya Indonesia dipelajari oleh warga negera lain dan budaya negera asingpun disukai oleh warga negara kita. Ini bukanlah sesuatu hal yang perlu dikhawatirkan. Budaya atau ajaran tentang kebaikan tidak mengenal batas bangsa.

Budi Pekerti

Acuan ini sangat populer digunakan di negera barat atau di dunia pendidikan negara sekuler.  Maklum saja karena di sekolah sekolah umum, agama adalah dilarang untuk diajarkan (sebagai mata pelajaran tersendiri)  dan sebagai gantinya diperkenalkan pendidikan budi pekerti.  Budi pekerti adalah pelajaran tentang hati nurani dan mengedepankan sisi humanisme-nya.

Budi pekerti juga bukanlah dogma agama jadi tidak dipastikan akan pernah membahas tentang sorga dan neraka atau bahkan mungkin juga tidak membahas tentang Tuhan. Sekali lagi yang ditekankan adalah sisi humanisme-nya. Pelanggaran tentang Budi pekerti sama sekali tidak akan ada sangsi atau ancaman berupa hukuman fisik, hukum formal ataupun hukum Tuhan,  yang ada adalah hukuman moral seperti dikucilkan dari pergaulan dll.

Etika dan Manner

Etika dan Manner adalah seperangkat aturan yang tidak resmi atau tidak tertulis tentang berprilaku. Di negari yang tergolong peradabannya sudah maju, atau dalam pergaulan di komunitas tertentu, pelajaran tentang etika dan manner sangatlah penting. Contoh mudah adalah tata cara menggunakan telephone di tempat publik seperti mematikan atau tidak menggunakan nada dering di kendaraan umum, rapat dll. Kemudian tata cara makan di tempat tempat publik, bicara berisik dll, semuanya ada manner-nya.

Pelanggaran terhadap manner dan etika sama sekali tidak akan membuat anda masuk penjara ataupun masuk neraka. Yang paling apes mungkin cuma mendapat teguran dari orang lain atau bahkan dilihatin beramai ramai sambil berkomentar dalam hati “Tahu manner ngak sih?”.

Tata cara makan umumnya lebih dikenal dengan sebutan “table manner”. Makan pakai tangan contohnya (maksudnya pakai tangan tanpa alat spt sendok, garpu atau sumpit) tentu tidak salah, tapi dalam etika pergaulan umum adalah kurang tepat. Jamuan resmi ala Italia ya berarti pakai sendok garpu. Kalau tetap ngotot makan pakai tangan boleh boleh saja cuma sedikit aneh, menjadi tontonan orang atau bahkan bisa bisa masuk youtube.

Logika dan Filsafat

Filsafat dan logika adalah ilmu yang sudah sangat tua dan bahkan sama tuanya dengan peradaban manusia. Jauh sebelum agama besar sekarang lahir, filsafat memiliki fungsi penting dalam berprilaku. Tentu saja filsafat yang dimaksud disini bukan filsafat debat kusir ala Nabi Semelekete : “Akulah yang benar serta  kamulah yang salah, agamaku-lah yang benar dan agamamu-lah yang salah dst”.

Filsafat adalah logika jadi logikalah yang dikedepankan. Apakah anda senang kalau dimaki dan di beri kata kata kasar? Kalau tidak berarti orang lain juga sama. Apakah anda senang kalau harta benda kita dijarah orang? Apakah kita senang kalau cara hidup atau kepercayaan kita dihina dan dijelekkan orang? Dengan menggunakan logika maka hampir sebagian besar kasus bisa dijawab dengan relatif mudah.

Hukum Formal

Hukum formal adalah acuan baik dan buruk bagian terakhir yang bisa dijadikan sebagai acuan umum. Hukum formal berlaku luas, ketat, keras dan bersifat mengikat dan memaksa. Maju atau mundurnya peradaban suatu negara bisa dilihat dari berfungsi atau gagalnya hukum formal yang berlaku di negara tersebut.

Ketaatan  seseorang menjalankan ibadah atau sembahyang bukanlah jaminan bahwa kondisi negara tersebut adalah tertib dan teratur. Salah satu contoh prilaku yang mudah dilihat adalah dalam hal berlalu lintas. Rajin sembahyang sama sekali tidak menjamin seseorang menjadi taat berlalu lintas demikian juga sebaliknya.

Hati Nurani dan Ilmu Pengetahuan

Berikut ini adalah acuan baik dan buruk versi favorit si Mbah yaitu  acuan Hati Nurani dan Ilmu Pengetahuan. Maaf rada primitif dan kampungan jadi mohon jangan ditiru. Nurani adalah suara hati yang tidak pernah bohong. Pengetahuan  adalah ibarat bunga yang dipetik dan kumpulkan dari  berbagai sumber: orang tua, guru di sekolah,  saudara, tetangga, teman permainan, membaca buku, membaca koran, merenung, bergaul dengan banyak orang di masyarakat, belajar dari alam, belajar dari binatang dll.

Apakah korupsi adalah prilaku baik atau buruk? Silakan gunakan Hati Nurani sebagai acuan. Apakah menebang pohon menggunduli hutan dan membuang sampah sembarangan itu perbuatan baik? Silakan gunakan  Ilmu pengetahuan sebagai jawaban.

:mrgreen: Nurani tiap orang khan berbeda Mbah? Nanti semua orang mengaku Nuraninya paling benar. Malah tambah kacau jadinya.

Melipat selimut saat bangun tidur, mencuci piring setelah makan, mengucapkan terima kasih pada ibu yang telah memasak, menghormati kepercayaan orang apakah merupakan perbuatan baik atau buruk? Dengan menggunakan nurani maka jawabannya dipastikan akan sama karena memang SUMBERNYA adalah sama. Untuk memahami nurani maka  harus dipelajari dan dibiasakan dari kecil. Kalau sudah besar dan jenggotan baru belajar ya jawabannya seperti yang Sampean sampaikan tadi yaitu ngawur, semua orang merasa diri benar. Ini disebabkan karena Nurani sudah hilang atau tumpul. (Hati Nurani, Pengetahuan dan NIAT, tambahan dari pembaca, Mas Balanedewa)

Bunuh orang adalah pasti bertentangan dengan nurani, tapi dengan menggunakan acuan berbeda hasilnya bisa jadi berbeda. Contohnya adalah dengan menggunakan acuan tentara maka bunuh orang bisa jadi benar, dengan acuan intelijen maka penculikan dan pembunuhan aktivis bisa jadi benar. Bunuh orang adalah bertentangan dengan nurani dan juga hukum, tapi dengan menggunakan acuan agama (terlebih lagi versi agama yang sudah dipelintir) maka yang salah bisa jadi benar.

:mrgreen: Lho, agama yang diplintir, maksudnya apa Mbah? Emang  bisa agama diplintir-plintir?

Jelas bisa. Buktinya ada perang Salib bukan? Kemudian ada kerusuhan dan kekerasan atas nama agama. Agama itu ya damai, kalau rusuh berarti jawabannya cuma satu yaitu sudah dipelintir. Yang diplintir bisa jadi bukan ayat atau terjemahan tapi TAFSIRnya. Kemudian yang lebih umum lagi adalah memelintir emosi, fanatisme dan keluguan umat. Plintir memilintir agama ini umum terjadi pada hampir semua aktivitas, terlebih lagi di dunia POLITIK dan kekuasaan.

Opini Penutup

:mrgreen: Bagaimana sebaiknya, apakah blog ini tidak memberi tempat dan ruang sedikitpun untuk agama?

Lha, justru blog ini adalah blog agama yang kaku, ngotot dan dogmatis, harus persis seperti di buku yang ditulis entah oleh siapa tapi agama nurani.  Jadi acuan berbuat baik versi blog ini  dibagi menjadi 2 yaitu :

  1. Acuan Privat, artinya acuan berbuat baik untuk diri sendiri, lingkungan keluarga ataupun komunitas sendiri. Di bagian inilah acuan agama sebaiknya ditempatkan.

  2. Acuan Publik, acuan ini berlaku untuk umum. Di wilayah umum ini, agama kagak perlu dibawa-bawa, tidak perlu dipeluk peluk. Berpelukan cukup dilakukan di wilayah privat. Di wilayah publik yang terpenting adalah esensinya yaitu PRILAKU. Apakah gunanya beragama kalau prilaku malah menjadi amburadul?

Jadi kedua acuan ini, privat dan publik harus ditempatkan pada tempatnya. Pada tatanan masyarakat yang tidak  bisa membedakan acuan privat dengan acuan publik maka akan berpotensi menciptakan kekacauan. Di negeri sendiri bisa jadi saya ngotot mengatakan bahwa acuan privat dan acuan publik harus menggunakan dasar yang sama yaitu agama, tapi bagaimana kalau saya tinggal di negeri orang? Kebaikan haruslah universal jadi bukan dibatasi dengan sekat dogma atau sambal agama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar