Sabtu, 29 September 2012

cerita untuk berbuat baik

kisah yang baik

Suatu ketika di sore hari, tampak seorang pemuda

sedang bermain gitar di bawah pohon yang rindang,

tidak jauh dari tepi sungai.


Ketika sedang asik melantunkan sebuh lagu

tiba-tiba perhatiannya terarah saat mendengarkan

gemericik air yang terdengar tidak beraturan.


Sang pemuda pun segera melihat ke arah tepi sungai

di mana sumber suara tadi berasal.


Ternyata, di sana tampak seekor kepiting

yang sedang berusaha keras mengerahkan

seluruh kemampuannya untuk meraih tepian sungai

sehingga tidak hanyut oleh arus sungai yang sangat deras.


Melihat hal itu, Si pemuda merasa kasihan.

Karena itu, ia segera mengulurkan tangannya

ke arah kepiting untuk membantunya.

 

Suatu ketika di sore hari, tampak seorang pemuda

sedang bermain gitar di bawah pohon yang rindang,

tidak jauh dari tepi sungai.

 

Ketika sedang asik melantunkan sebuh lagu

tiba-tiba perhatiannya terarah saat mendengarkan

gemericik air yang terdengar tidak beraturan.

 

Sang pemuda pun segera melihat ke arah tepi sungai

di mana sumber suara tadi berasal.

 

Ternyata, di sana tampak seekor kepiting

yang sedang berusaha keras mengerahkan

seluruh kemampuannya untuk meraih tepian sungai

sehingga tidak hanyut oleh arus sungai yang sangat deras.

 

Melihat hal itu, Si pemuda merasa kasihan.

Karena itu, ia segera mengulurkan tangannya

ke arah kepiting untuk membantunya.

 

Melihat tangan terjulur,

dengan sigap kepiting

menjepit jari si pemuda.

 

Meskipun jarinya terluka

karena jepitan capit kepiting,

tetapi hati Pemuda itu puas

karena bisa menyelamatkan si kepiting.

dari kejadian yang bisa membahayakan dirinya

 

Kemudian, dia pun melanjutkan kembali petikan gitarnya.

Belum lama Dia melantunkan sebuah melodi terdengar lagi

bunyi suara yang sama dari arah tepi sungai.

 

Ternyata kepiting tadi mengalami kejadian yang sama.

Maka, si pemuda kembali mengulurkan tangannya

dan membiarkan jarinya dicapit oleh kepiting demi membantunya.

 

Selesai membantu untuk kali kedua,

ternyata kepiting terseret arus lagi.

 

Maka, si pemuda pun menolongnya kembali

sehingga jari tangannya makin membengkak

karena jepitan capit kepiting.

 

Ada seorang tua yang melihat kejadian itu

kemudian Pak tua pun datang menghampiri

dan menegur si pemuda, "Anak muda,

perbuatanmu menolong adalah cerminan hatimu yang baik.

 

Tetapi, mengapa demi menolong seekor kepiting

engkau membiarkan capit kepiting melukaimu hingga sobek seperti itu?"

 

"Paman, seekor kepiting memang menggunakan capitnya untuk memegang benda.

Dan saya sedang melatih mengembangkan rasa belas kasih.

 

Maka, saya tidak mempermasalahkan jari tangan ini terluka

asalkan bisa menolong nyawa makhluk lain,

walaupun itu hanya seekor kepiting,"

 

jawab si pemuda dengan kepuasan hati

karena telah melatih sikap belas kasihnya dengan baik.

Mendengar jawaban si pertapa muda,

 

Sambil tersenyum paktua itu memungut sebuah ranting.

Ia lantas mengulurkan ranting ke arah kepiting

yang terlihat kembali melawan arus sungai.

 

Segera, si kepiting menangkap ranting itu dengan capitnya.

 

"Lihat Anak Muda. Melatih mengembangkan sikap belas kasih memang baik,

tetapi harus pula disertai dengan kebijaksanaan.

 

Maksudnya, Ada cara terbaik untuk berbuat baik

karena jika cara kita salah, perbuatan baik pun

akan terlihat sangat menyakitkan :D

 

 

Seketika itu, si pemuda tersadar.

"Terima kasih, Paman. Hari ini saya belajar sesuatu.

 

Mengembangkan cinta kasih harus disertai dengan kebijaksanaan.

 

"Di kemudian hari, saya akan selalu ingat kebijaksanaan yang Paman ajarkan."

 

 

 

Sahabat...

pergunakanlah sisa waktu untuk berbuat baik

agar Tuhan selalu memberi kita yang terbaik.

Bila tujuan kamu benar-benar baik,

yakni untuk menolong makhluk lain,

 

kamu tidak harus dengan cara mengorbankan diri sendiri.

Ranting pun bisa kamu manfaatkan, betul kan ?"

 

mari kita petik pelajaran berharga dari cerita singkat diatas

Mempunyai sifat belas kasih,

mau memerhatikan dan menolong orang lain

adalah perbuatan mulia, entah perhatian itu

 

kita berikan kepada anak kita, orangtua,

sanak saudara, teman, atau kepada siapa pun.

Tetapi, kalau cara kita salah, sering kali perhatian

 

atau bantuan yang kita berikan

bukannya memecahkan masalah,

namun justru menjadi bumerang.

 

Kita yang tadinya tidak tahu apa-apa

dan hanya sekadar berniat membantu,

malah harus menanggung beban

dan kerugian yang tidak perlu.

 

Karena itu, adanya niat dan tindakan berbuat baik,

seharusnya diberikan dengan cara yang tepat dan bijak.

Dengan begitu, bantuan itu nantinya tidak hanya akan berdampak positif

bagi yang dibantu, tetapi sekaligus membahagiakan

dan membawa kebaikan pula bagi kita yang membantu.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar